Awal 2021, Covid-19 Memelukku
Malam itu adalah malam terakhir di tahun 2020. Tidak seperti biasanya, di rumahku sudah terlihat tidak ada tanda adanya aktivitas. Padahal jam yang kulihat baru menunjukkan angka 20.30 WIB.
"Huh, aku ingin ikut yang lain bakar-bakar sate di rumah Bude", gumamku pada diri sendiri di dalam kamar. Sayangnya, saat itu juga hati kecilku otomatis mencelos, "Sayangi dirimu sendiri De, kamu kan lagi sakit."
Benar, tanggal 31 Desember 2020 kami sekeluarga sudah mulai mengalami sakit "flu". Meskipun merasa itu adalah hal yang biasa, namun keluarga kami mulai menerapkan protokol kesehatan di dalam rumah. Mengingat penyebaran virus Covid-19 di kota kami yang semakin meningkat saat itu.
Bapak berpisah kamar dari Mama yang awalnya berada di dalam kamar yang sama. Saat itu juga, belum ada sesuatu yang mencurigakan tentang penyakit kami. Pergantian malam tahun baru kami yang biasanya masih terjaga entah hanya untuk 'menikmati momen' atau bersiap 'melambungkan harapan baru' malam itu tidak kami lakukan. Kami semua berada di kamar masing-masing untuk beristirahat lebih awal.
Esok paginya seperti biasa aku membersihkan rumah sebelum jam 6. Mama tiba-tiba mengeluh tidak bisa mencium apapun saat keluar dari kamar mandi. Saat itulah muncul dugaan kami bahwa ini (bisa saja) menjadi salah satu gejala Mama terpapar virus Covid-19. Anosmia namanya. Menurut Huriyati dan Nelvia (2014) anosmia merupakan salah satu penyakit yang menyerang system pernafasan atas (hidung) yang ditandai dengan gejala kehilangan fungsi penghidu (penciuman).
Tidak menunggu lama, Mama menghubungi temannya yang berprofesi sebagai Dokter untuk meminta konsultasi secara online. Kami bersyukur Dokter Farida yang ternyata menjabat sebagai Kepala Puskesmas Babadan sangat responsif. Beliau langsung meminta kami agar tetap tenang sembari menjelaskan beberapa opsi jika saja benar kami positif Covid-19. Siangnya, beliau mengirim obat (husnul hindi, vit C, dan beberapa obat lain) melalui abang gojek.
![]() |
| Sumber: djkn.kemenkeu.go.id |
Untuk menjawab keraguan kami, keluarga kami yang lain menyarankan melakukan swab PCR di rumah sakit terdekat. Swab PCR dilakukan dengan memasukkan alat swab untuk hidung dan tenggorokan. Setelah melakukan swab PCR, benar saja esok paginya kami dihubungi bahwa kami sekeluarga dinyatakan positif Covid-19.
Apakah kami panik? Tentu saja. Namun entah dorongan dari mana aku bisa berfikir jernih dan mulai memotivasi orangtuaku bahwa kepanikan tidak akan menyembuhkan penyakit ini. Rata-rata hasil CT dari swab PCR keluargaku menunjukkan bahwa virus yang ada sudah tergolong non-infeksious sehingga oleh Dr. Farida disarankan untuk isolasi mandiri di rumah selama 10 hari. Isolasi bisa ditambah 5 hari menjadi 15 hari jika pasien masih memiliki gejala seperti sesak nafas, demam dan batuk.
Selama 10 hari kami jalani dengan berbagai aktivitas agar meningkatkan kekebalan tubuh. Olahraga pagi dan berjemur sebelum jam 10 rutin kami lakukan. Selain itu, asupan makanan bergizi seperti buah-buahan, sayur mayur terus kami konsumsi. Alhamdulillah. Setelah beberapa hari dinyatakan positif, kondisi Mama yang awalnya paling buruk semakin membaik. Untuk kondisiku, adik dan Bapak jauh lebih baik dari sebelumnya.
Hal yang ingin aku syukuri disini bahwa dari awal sakit sekitar tanggal 29 Desember 2020 kami sudah menerapkan protokol kesehatan. Kami memakai masker (meskipun di dalam rumah), tidak keluar rumah sama sekali dan olahraga rutin sehingga akan mengurangi kemungkinan orang di sekitarku terkena paparan virus. Terima kasih kepada seluruh keluarga, tetangga dan teman-teman yang setiap hari selalu mengirimkan doa dan semangat. It really means a lot to me❤

0 comments